Selasa, 07 Januari 2020

JURNAL MAMI : ATMOSFER KEBAHAGIAAN

Semilir angin dingin berhembus. Gumpalan awan kelabu bergerak beriringan ke arah timur. Kuharap buk'le Ara datang sebelum hujan turun. Besok keluarga mereka harus segera kembali ke Probolinggo. Selain buk'le Ara, mami juga pasti rindu Wiya, gadis khidmat yang selalu mami ceritakan. Om harsa. Apakah mami juga merindukannya? Ah, terlalu lancang memikirkannya, bahkan jika hanya terlintas dalam benakku saja. Entah kenapa aku masih canggung jika nanti bertemu dengan om Harsa, padahal antara om Harsa dan mami hanyalah sahabat dulunya.

"Mih, maaf ya Indira baca jurnal pribadi mami." Semalaman aku menyusun kalimat ini untuk memulai sebuah pengakuan. Aku takut mami marah karena perbuatan tersebut. Ada dua pertimbangan ketika akan mengaku atau tidak mengaku. Pertama, aku tidak akan mengaku karena menganggap bahwa mami hanya memberikan satu kardus penuh jurnal penelitian serta jurnal mengenai kegiatan sebagai aktivis kemanusiaan saja saat muda dulu dan mungkin mami lupa didalamnya ada jurnal pribadi. Kedua, aku akan mengakui sebelum buk'le Ara yang mengungkapnya. Dan kupilih yang kedua.

Jika aku jadi mami mungkin rasanya seperti akan ditabrak kereta api. Adrenalin naik karena gemetar dan malu, kisah pribadi diketahui oleh anaknya sendiri, selama ini yg kurasakan bahwa mami tidak suka diusik tentang masa lalunya . Tapi jawaban yang bijak datang dari mami.

" Ya, memang beberapa hal mami sembunyikan dari kalian karena menurut mami memang tak semua perlu diketahui..." mami belum menyelesaikan kata katanya.

"Tingggg..."
"Assalamualaikum". Terdengar suara bel dari luar disusul dengan ungkapan salam dari pemilik suara yang tak asing, Buk'le Ara.
Mami langsung keluar menyambut buk'le Ara dan Wiya dengan pelukan hangat.

Cukup lama buk'le Ara berada di rumah kami. Namun entah apa yang diperbincangkannya dengan mami, mungkin mengungkap tentang segala rasa yang tak tersampaikan antara mami dan Om Harsa, tentang persahabatan mereka, tentang cinta dalam diam. Yang jelas kulihat beberapa kali mami menyeka bendungan air matanya sebelum benar-benar jatuh. Ya setidaknya itu yang tampak dari ruangan ini, ruang keluarga yang bersebrangan dengan ruang tamu tempat mami dan Buk'le Ara mengobrol.

"Wiya senang deh kalau misalkan bunda lestari beneran jadi ibuku, dan teh Indira jadi kakakku." Pengakuan wiya membuatku sedikit penasaran. Aku tak keberatan jika Wiya menjadi adikku, belum lagi status om Harsa yang kini duda dan mami yang janda bukan tak mungkin kemungkinan mereka akan menjalin rumah tangga kedua pada usia paruh baya. Sepertinya gadis ini mengetahui apa yang dibicarakan mami dan Buk'le Ara di seberang sana.

Sekali lagi kuintip mami dan buk'le Ara, tampaknya air mata mami tak terbendung, pipi dengan rona merah muda pucat yang sudah sedikit mengerut itu basah. Mereka saling berpelukan. Pemandangan itu menggambarkan atmosfer kebahagiaan.

"Ya, nanti saya tanyakan anak-anak dulu untuk meminta pertimbangan." Itulah kalimat terakhir yang kudengar dari mami di akhir percakapan.

(Bersambung)

#Day28
#Tetesairmata
#30daywritingchallenge
#30dwcjilid21

Tidak ada komentar:

Posting Komentar