Bismillah..
Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.
Buk, maaf Abang baru bisa menyampaikan ini sekarang, walaupun senin lalu kita komunikasi lewat telepon, tapi Abang terlalu malu dan dan takut buat menyampaikan hal ini. Abang paksain ngirim ini supaya hati Abang tenang sebelum besok Abang khitbah Akhwat yang pernah Abang ceritakan.
Buk, dulu waktu Abang masih kecil, ibuk selalu temani Abang main, belajar dan apapun itu, meski ibuk juga repot ngasuh adek. Maafkan Abang selalu buat ibuk lelah, maafkan Abang selalu iri sama adek.
Waktu ibuk kembali kerja, sebetulnya Abang gak suka, Abang inginnya ibuk di rumah temani Abang dan adek. Kata bu'de dulu Abang sering ngamuk-ngamuk kalau ibuk berangkat kerja. Maafkan Abang ya buk, saat itu Abang ga paham bahwa ibuklah yang menggantikan peran Ayah saat Ayah sedang sakit dan gak bisa kerja.
Menginjak remaja, Abang pernah pakai uang SPP untuk sekolah futsal. Ibuk dulu suka larang-larang Abang, jadi Abang sengaja membangkang. Maafkan Abang buk, saat itu Abang hanya pikirkan kesenangan diri sendiri saja.
Dan saat masuk dunia kerja, Abang dengan mudahnya menghabiskan gaji untuk berfoya-foya, minum minuman dan obat obatan terlarang. Ini yang belum ibuk tau. Abang suka pulang kerumah malam menjelang pagi, sulit dihubungi, dengan sengaja selalu buat Ibuk dan Ayah kesal. Namun ibuk dan Ayah selalu sabar dan doakan yang terbaik untuk Abang sehingga Abang bisa meninggalkan benda haram itu. Maafkan Abang yang bebal dan kufur nikmat ini buk.
Abang juga dulu suka gonta-ganti pacar, mudah terperdaya wanita dan mudah terpengaruh lingkungan. Tapi ibuk tidak henti hentinya mengingatkan untuk sering ikut kegiatan yang bermanfaat, ikuti kajian keagamaan, supaya dapat jodoh juga orang yang taat beragama.Dan Alhamdulillah sekarang Abang dapatkan itu. Maafkan Abang buk yang pernah tertipu dengan cinta berbalut nafsu.
Mohon maafkan segala khilaf Abang, doakan lancarnya acara besok, meski ibuk tidak bisa hadir dikarenakan jarak memisahkan kita.
Salam bakti,
Dari Anakmu yang rantau di negeri orang.
Kubaca ulang surat permohonan maaf tersebut , berusaha supaya mudah ibuku memahaminya sebelum aku kirim lewat email malam ini. Ibuku orang yang mengikuti perkembangan zaman, beliau tau cara buka, kirim, dan terima email. Yang mungkin ketika orangtua seusianya kebanyakan pada gaptek, beliau bisa, maklumlah dosen senior yang tidak akan terlepas dari surat menyurat elektronik.
Aku tidak biasa menulis surat yang seperti itu. Terlalu gengsi ! Meskipun pada orangtuaku sendiri. Namun untuk bicara langsung juga terlalu kelu lidah ini. Jadi aku putuskan tulis saja.
Surat maaf yang sederhana ini kuharap dapat mewakili rasa hati yang telah lama mengganjal.
#30dwcjilid19
#30daywritingchallenge
#day28
#Squad5