Sabtu, 25 Januari 2020

Suara Lampu Merah

Si pelanggar tak pedulikanku saat kemunculanku, menerobos adalah hal biasa baginya, dan mengatakan bahwa akulah penghambat. Namun saat kecelakaan menimpa, lagi-lagi aku dikatakan sebagai penyebab, katanya "Lampu merah terlalu cepat".

Si pegawai menyalahkanku karena seringnya Ia terlambat masuk kerja, katanya "Lampu merah terlalu lama".

Si penggerutu, mengutuk panasnya terik matahari saat sedang di perempatan jalan tepat sebelum garis tempat pemberhentian, katanya "Gara-gara Lampu merah, panasnya jadi tambah berasa"

Rasanya ingin menyuarakan "Kenapa selalu aku yang jadi kambing hitam"

Sesekali rasanya ingin menghilang, sembunyi, dan membiarkan segala kekacauan.

Seorang supir truk kegerahan, meski diluar hujan "Duh, semua kacau, semua kendaraan ingin melaju, kenapa lampu merah harus padam sih" katanya.

Si penyebrang jalan pun mengharapkan kehadiranku, "Kalau saja lampu merah menyala, akan lebih mudah menyebrang di jalanan yang ramai ini."

Si Pengemudi mobil menghela nafasnya, "Ah, biasanya dilampu merah aku bisa sedikit minum, meregangkan badan, dan mengecek pesan masuk."

Belum lagi si pengamen cilik, gadis kecil penjual tisu, dan pedagang asongan lainnya yang mencari-cariku. Mereka yang mengandalkan kemunculanku untuk melancarkan pekerjaannya.

Akhirnya Aku muncul dan kembali bertugas tanpa terlalu memikirkan ucapan orang.

Minggu, 12 Januari 2020

Kisah Y dan Z

Kisah ini bukan menceritakan tentang gen Y dan Z yang seringkali dibahas ya. Y dan Z hanyalah inisial nama dari tokoh yang akan diceritakan.

Y dan Z bekerja di perusahaan yang sama. Z lebih senior dari Y.

Kisah Y :

Berdasarkan peraturan perusahaan, pekerjaan Y hanya diperuntukkan bagi pria lajang, jika menikah sebelum habis kontrak, maka otomatis akan dikeluarkan. Takdirnya, Y menemukan pasangannya dan menikah sebelum habis kontrak. Apakah Y diberhentikan dari pekerjaannya? Tidak. Ia merasa bersyukur karena hanya dipindahtugaskan ke divisi lain, dengan tugas yang tidak Ia mengerti. Namun Ia mau belajar.

 Tahun setelahnya, Ia dipindahkan lagi, dengan tugas yang lebih sulit dan benar-benar tak dimengerti. Namun Ia tak malu bertanya dan mau berusaha. Dalam waktu yang sama, Istri Y juga ingin bekerja. Kemudian melamarlah di perusahaan tempat Y bekerja namun di departemen berbeda. Atas izin Allah ada posisi kosong sehingga diterimalah istri Y.

Setahun setelahnya, Y dipindahkan ke divisi lain, namun tugasnya saat ini merupakan pekerjaan yang amat disukainya sehingga terasa mudah, namun Ia tetap semangat dan mau belajar hal baru sehingga Ia menjadi karyawan terbaik tahun tersebut.

Kisah Z :

Begitu bergabung dengan perusahaan, beruntung Z langsung mendapat tugas sesuai dengan passion-nya. Z menikah satu tahun setelah Y.  Z dan istrinya tinggal dirumah orangtua Z. Namun istrinya tidak betah sehingga mereka memutuskan untuk mengontrak di tempat lain.

Karena bosan, istri Z juga ingin bekerja. Melamarlah istri Z ke perusahaan X. Pasangan tersebut pindah kontrakan ke dekat perusahaan X. Takdirnya, istri Z tidak diterima. Kemudian Z ingat ketika istri Y juga melamar diperusahaan yang sama dengan mereka, akhirnya istri Z melamar. Pindahlah kontrakan ke dekat perusahaan tempat Z bekerja. Z berusaha bagaimanapun supaya istrinya diterima, namun perusahaan belum membuahkan karyawan dengan kualifikasi istri Z.

Sampai saat ini, istri Z masih dirumah dan hanya Z yang bekerja. Tapi gaya hidup istri Z membuat suaminya kesulitan. Sehingga sebesar apapun penghasilan Z, apalagi Ia punya bisnis sampingan, akan selalu habis karena keluarga tersebut boros

Dari dua kisah tersebut, dapat dipahami bahwa Allah memberikan rezeki serta kemudahan pada orang yang di kehendaki-Nya dan menahan atau mengganti rezeki dengan yang Ia kehendaki pula. Setiap orang telah Allah berikan kadar rezekinya serta telah Allah tentukan pula waktunya.

Berkaca dari hal tersebut, apa yang membuat rezeki Y dimudahkan sedangkan Z, seolah dipersulit. Y mempunyai sikap tulus, semangat tinggi, dan bertawakal kepada Allah. Sedangkan Z, meski penghasilannya lebih besar namun terasa tidak barokah. Keluarga mereka boros ditambah lagi sering melakukan sesuatu tanpa pertimbangan yang matang. Mungkin saja Allah melihat hal tersebut sebagai tanda bahwa rezeki mereka "segitu dulu, lainnya nanti"

Kita memang tidak boleh memaksa atas apa yang diinginkan, tapi kita bisa berusaha. Karena tidak akan ada yang berubah jika kita tidak berubah.

Kamis, 09 Januari 2020

Jurnal Mami : Melampaui asa


Kata bertulis cinta memang pernah kutemukan pada salahsatu jurnal yang mami tulis pada masa mudanya.

Cinta memberikan warna, bahkan gradasi yang indah memanjakan mata
Entah semu atau nyata, cinta melambungkan asa bagi si pecinta
Berbalas atau tidak dari yang dicinta, cinta tetap masih fitrah yang Tuhan anugerahkan diluar kuasa manusia

Penghujung Oktober, 1988

Persahabatan antara pria dan wanita kerap kali memunculkan rasa kasih sayang yang mengagumkan. Saling mengenal dan berbagi tanpa beban berarti. Itulah yang terjadi pada mami dan Om Harsa di masa lalu. Mereka bersahabat dan menyimpan rasa yang tak pernah terungkap untuk saling menjaga hati, menjaga diri, serta mempertahankan persahabatan yang mereka bangun.

Cinta dalam diam, menjadikan keduanya ragu untuk membahas masalah hati lebih dalam. Takdirnya, Tuhan memisahkan jalur kisah cinta mereka untuk dipertemukan lagi di muara dengan cara yang lebih indah.

Setahun setelah om Harsa menikahi seorang gadis di desanya, mami jatuh hati pada pria lain kemudian menikah, pria itu adalah ayahku. Mereka membangun rumah tangganya masing-masing tanpa pernah mengait-ngaitkan rasa yang pernah ada di masa lalu. Saling mendukung, meski isi hati orang siapa yang tahu. Mundur teratur, itulah yang keduanya lakukan untuk menghormati pasangannya masing-masing serta mencoba melenyapkan asa yang pernah berkobar di dada.

Kehendak Allah sungguh diluar kuasa manusia. Setelah berpuluh tahun lamanya tak saling sapa, dipertemukan lah kembali mereka dalam keadaan sudah menjadi janda dan duda.

Cinta dalam diam, memang tak layak jika disandingkan dengan kisah cinta Fatimah Az-Zahra dengan Ali bin Abi Thalib. Tapi aku teringat kisah itu ketika mendapati kabar bahwa mami dan Om Harsa dulu saling menaruh hati namun mereka memendamnya dengan rapi. Dulu kakak mentorku pernah menceritakan kisah cinta Fatimah dan Ali, singkatnya bahwa keduanya saling memendam perasaan dengan apiknya. Sampai akhirnya keduanya menikah, padahal pernikahan mereka telah tercatat oleh langit sebelumnya.

Keesokan hari setelah kedatangan buk'le Ara, mami mengumpulkan semua anak-anaknya.

"Mami akan menikah lagi." Kalimat tersebut terlontar dari mulut mami saat aku, Asmita dan Galang tengah duduk santai di ruang keluarga. Aku sudah merasa ini akan terjadi, kedatangan buk'le Ara kemarin adalah untuk menyampaikan pesan bahwa om Harsa ingin melanjutkan hidup bersama mami.

Tebak apa reaksi Asmita dan Galang? Yap, skenario Allah memang paling sempurna. Allah Maha Pemilik hati. Hati kedua adikku pun dibawah kendali-Nya. Asmita dan Galang langsung menyetujuinya. Tentu setelah mami menjelaskan panjang lebar kisahnya.

Bukan kami tak sayang pada Ayah dan ingin melupakannya. Namun hati kami lebih tenang jika mami ada yang mendampingi. Meski mami akan menikah dengan om Harsa, tetap Ayah adalah Ayahku selamanya. Dan om Harsa bagiku hanyalah bagian dari jurnal mami sebagai tokoh yang pernah hampir mami lenyapkan. Namun bagi mami, mungkin kedatangan kembali om Harsa adalah kejutan dalam kehidupan yang melampaui segala asa.

#day29
#Asa
#30dwcjilid21
#30daywritingchallenge

Selasa, 07 Januari 2020

JURNAL MAMI : ATMOSFER KEBAHAGIAAN

Semilir angin dingin berhembus. Gumpalan awan kelabu bergerak beriringan ke arah timur. Kuharap buk'le Ara datang sebelum hujan turun. Besok keluarga mereka harus segera kembali ke Probolinggo. Selain buk'le Ara, mami juga pasti rindu Wiya, gadis khidmat yang selalu mami ceritakan. Om harsa. Apakah mami juga merindukannya? Ah, terlalu lancang memikirkannya, bahkan jika hanya terlintas dalam benakku saja. Entah kenapa aku masih canggung jika nanti bertemu dengan om Harsa, padahal antara om Harsa dan mami hanyalah sahabat dulunya.

"Mih, maaf ya Indira baca jurnal pribadi mami." Semalaman aku menyusun kalimat ini untuk memulai sebuah pengakuan. Aku takut mami marah karena perbuatan tersebut. Ada dua pertimbangan ketika akan mengaku atau tidak mengaku. Pertama, aku tidak akan mengaku karena menganggap bahwa mami hanya memberikan satu kardus penuh jurnal penelitian serta jurnal mengenai kegiatan sebagai aktivis kemanusiaan saja saat muda dulu dan mungkin mami lupa didalamnya ada jurnal pribadi. Kedua, aku akan mengakui sebelum buk'le Ara yang mengungkapnya. Dan kupilih yang kedua.

Jika aku jadi mami mungkin rasanya seperti akan ditabrak kereta api. Adrenalin naik karena gemetar dan malu, kisah pribadi diketahui oleh anaknya sendiri, selama ini yg kurasakan bahwa mami tidak suka diusik tentang masa lalunya . Tapi jawaban yang bijak datang dari mami.

" Ya, memang beberapa hal mami sembunyikan dari kalian karena menurut mami memang tak semua perlu diketahui..." mami belum menyelesaikan kata katanya.

"Tingggg..."
"Assalamualaikum". Terdengar suara bel dari luar disusul dengan ungkapan salam dari pemilik suara yang tak asing, Buk'le Ara.
Mami langsung keluar menyambut buk'le Ara dan Wiya dengan pelukan hangat.

Cukup lama buk'le Ara berada di rumah kami. Namun entah apa yang diperbincangkannya dengan mami, mungkin mengungkap tentang segala rasa yang tak tersampaikan antara mami dan Om Harsa, tentang persahabatan mereka, tentang cinta dalam diam. Yang jelas kulihat beberapa kali mami menyeka bendungan air matanya sebelum benar-benar jatuh. Ya setidaknya itu yang tampak dari ruangan ini, ruang keluarga yang bersebrangan dengan ruang tamu tempat mami dan Buk'le Ara mengobrol.

"Wiya senang deh kalau misalkan bunda lestari beneran jadi ibuku, dan teh Indira jadi kakakku." Pengakuan wiya membuatku sedikit penasaran. Aku tak keberatan jika Wiya menjadi adikku, belum lagi status om Harsa yang kini duda dan mami yang janda bukan tak mungkin kemungkinan mereka akan menjalin rumah tangga kedua pada usia paruh baya. Sepertinya gadis ini mengetahui apa yang dibicarakan mami dan Buk'le Ara di seberang sana.

Sekali lagi kuintip mami dan buk'le Ara, tampaknya air mata mami tak terbendung, pipi dengan rona merah muda pucat yang sudah sedikit mengerut itu basah. Mereka saling berpelukan. Pemandangan itu menggambarkan atmosfer kebahagiaan.

"Ya, nanti saya tanyakan anak-anak dulu untuk meminta pertimbangan." Itulah kalimat terakhir yang kudengar dari mami di akhir percakapan.

(Bersambung)

#Day28
#Tetesairmata
#30daywritingchallenge
#30dwcjilid21

JURNAL MAMI : Keranjang Emosi

Suatu waktu kurekam kebahagiaan agar tak hilang jejaknya.
Diwaktu yang lain, segala kepedihan dan kesedihan kuletakan juga pada tempatnya.
Terkadang rasa adrenalin yang membuncah baik karena takut ataupun karena gugup tak kubiarkan lepas dan kuikat dalam sebuah rangkaian kata.
Segala hal yang pernah ku rasakan, tersimpan apik dalam sebuah keranjang emosi yang kusebut buku catatan.

Mami sering katakan padaku, saat lisan tak sanggup berucap maka tuliskanlah. Tak heran bagiku kalau mami banyak menulis jurnal, baik yang berkaitan dengan hobinya, pekerjaannya, maupun hal-hal yang bersifat pribadi. Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya bahwa tulisan-tulisan mami dalam jurnalnya seringkali dipublikasikan melalui media cetak maupun elektronik. Karya-karya mami diminati pada masanya.

Meskipun kebanyakan jurnal mami berisi tentang kegiatannya sebagai aktivis kemanusiaan, tetap saja yang paling menarik bagiku adalah kisah cinta mami pada masa mudanya. Tentang pria yang dikaguminya, yang pernah membuatku berprasangka bahwa aku adalah anaknya. Tentang rasa yang tak pernah terungkap dari keduanya, baik mami ataupun om Harsa.

Menemukan itu semua, seperti mengaduk-aduk isi keranjang mami demi mencari dan menyusun potongan puzzle jig-saw dari kisah tentang rasa yang tersimpan rapi di bagian terdalam keranjang itu. Meski tak semua potongan kutemukan disana. Perbincangan dengan buk'le Ara, foto album kenangan, lembaran-lembaran surat membantuku menyusun bagian yang sulit.

Tentang rasa yang tak terungkap mengingatkanku pada kisah cinta Fatimah Az-zahra dan Ali bin Abi Thalib, yang saling menyimpan rasa cinta mereka masing-masing dengan rapi. Sampai pada akhirnya, mereka menikah. Bahkan pernikahan itu sebelumnya sudah tercatat oleh langit.

Keranjang emosi mami, masih banyak menyimpan hal menarik yang tak bosan untuk dicermati.

@pejuang30dwc
#day27
#tentangrasa
#30daywritingchallenge
#30dwcjilid21

Jumat, 30 Agustus 2019

Terimakasih Bunda

Nda.. singkatan dari Bunda, ibu dari ketiga kakakku, bukan ibuku, maksudnya bukan ibu kandungku. Tapi aku juga ikut memanggilnya nda. Aku dan ketiga kakakku memiliki satu Ayah yang sama. Jadi singkatnya, aku adalah anak dari istri kedua Ayah, tapi tinggal dan diasuh oleh istri pertamanya, yaitu nda. Kata ayah, mama (ibu kandungku) ada di Palembang, tapi entah Palembang sebelah mana. Beliau menyerahkan sepenuhnya pengasuhan ku pada ayah ketika usiaku lima tahun. Lalu menghilang. Dan diasuhlah aku oleh nda, ibu tiriku. Bagi kebanyakan orang image ibu tiri itu adalah ibu yang jahat seperti di sinetron atau film-film, tapi di dunia nyata tidak begitu,banyak ibu tiri yang baik, seperti nda. Nda adalah ibu yang sangat penyayang, sabar dan pemaaf. Aku sangat bersyukur mengenal dan diasuh olehnya. Waktu SMP, pernah aku sok sok an ikut lomba puisi tentang ibu, alih alih menceritakan ibu kandungku, aku lebih senang menceritakan nda.

Terimakasih bunda,
atas segala kasih sayang tulus yang kau beri padaku.
Terimakasih bunda,
atas waktu berharga yang kau bagi untukku bersama kakak kakakku.
Terimakasih bunda,
Kau sudah mau bermain denganku
Terimakasih bunda,
Kau juga menjadi guru terbaik bagiku
Terimakasih bunda,
Kau juga koki serta perawat hebat untuk kami
Aku sayang bunda, karena Allah

Apalah arti puisi abal-abalku ini bagi kalian. Maklum aku hanyalah remaja laki-laki yang punya kata-kata segitu-gitunya, tapi cintaku pada bunda amatlah besar.

Kamis, 29 Agustus 2019

Surat Maaf Dari Abang

Bismillah..
Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Buk, maaf Abang baru bisa menyampaikan ini sekarang, walaupun senin lalu kita komunikasi lewat telepon, tapi Abang terlalu malu dan dan takut buat menyampaikan hal ini. Abang paksain ngirim ini supaya hati Abang tenang sebelum besok Abang khitbah Akhwat yang pernah Abang ceritakan.

Buk, dulu waktu Abang masih kecil, ibuk selalu temani Abang main, belajar dan apapun itu, meski ibuk juga repot ngasuh adek. Maafkan Abang selalu buat ibuk lelah, maafkan Abang selalu iri sama adek.

Waktu ibuk kembali kerja, sebetulnya Abang gak suka, Abang inginnya ibuk di rumah temani Abang dan adek. Kata bu'de dulu Abang sering ngamuk-ngamuk kalau ibuk berangkat kerja. Maafkan Abang ya buk, saat itu Abang ga paham bahwa ibuklah yang menggantikan peran Ayah saat Ayah sedang sakit dan gak bisa kerja.

Menginjak remaja, Abang pernah pakai uang SPP untuk sekolah futsal. Ibuk dulu suka larang-larang Abang, jadi Abang sengaja membangkang. Maafkan Abang buk, saat itu Abang hanya pikirkan kesenangan diri sendiri saja.

Dan saat masuk dunia kerja, Abang dengan mudahnya menghabiskan gaji untuk berfoya-foya, minum minuman dan obat obatan terlarang. Ini yang belum ibuk tau. Abang suka  pulang kerumah malam menjelang pagi, sulit dihubungi, dengan sengaja selalu buat Ibuk dan Ayah kesal. Namun ibuk dan Ayah selalu sabar dan doakan yang terbaik untuk Abang sehingga Abang bisa meninggalkan benda haram itu. Maafkan Abang yang bebal dan kufur nikmat ini buk.

Abang juga dulu suka gonta-ganti pacar, mudah terperdaya wanita dan mudah terpengaruh lingkungan. Tapi ibuk tidak henti hentinya mengingatkan untuk sering ikut kegiatan yang bermanfaat, ikuti kajian keagamaan, supaya dapat jodoh juga orang yang taat beragama.Dan Alhamdulillah sekarang Abang dapatkan itu. Maafkan Abang buk yang pernah tertipu dengan cinta berbalut nafsu.

Mohon maafkan segala khilaf Abang, doakan lancarnya acara besok, meski ibuk tidak bisa hadir dikarenakan jarak memisahkan kita.

Salam bakti,
Dari Anakmu yang rantau di negeri orang.


Kubaca ulang surat permohonan maaf tersebut , berusaha supaya mudah ibuku memahaminya sebelum aku kirim lewat email malam ini. Ibuku orang yang mengikuti perkembangan zaman, beliau tau cara buka, kirim, dan terima email. Yang mungkin ketika orangtua seusianya kebanyakan pada gaptek, beliau bisa, maklumlah dosen senior yang tidak akan terlepas dari surat menyurat elektronik.

Aku tidak biasa menulis surat yang seperti itu. Terlalu gengsi ! Meskipun pada orangtuaku sendiri. Namun untuk bicara langsung juga terlalu kelu lidah ini. Jadi aku putuskan tulis saja.

Surat maaf yang sederhana ini kuharap dapat mewakili rasa hati yang telah lama mengganjal.

#30dwcjilid19
#30daywritingchallenge
#day28
#Squad5