Kamis, 21 Mei 2015

Hijrahnya Erwin


(Cerpen Bimbingan Karir)


Angin basah menerbangkan sisa-sisa hujan di penghujung Desember.Seorang anak laki-laki terhanyut dalam lamunan sore yang sejuk,mengkhawatirkan nasib dirinya yang tak berdaya,tak kuasa memberontak keadaan.Erwin,pemuda yang sudah menjadi muallaf sejak 10 tahun yang lalu kini sudah berumur 21 tahun.Pemuda pada usianya kebanyakan kuliah atau memilih bekerja,tapi tidak dengan Erwin.Meskipun Ia seorang Muslim,Ia tinggal di sebuah gereja yang telah lama mengekangnya dan menjadikkannya hidup dalam kebohongan-Erwin berpura-pura katholik-yang sebenarnya tak diinginkannya.Erwin tidak diperbolehkan bersekolah,bekerja,dan bersosialisasi dengan banyak orang.Pastur yang mengasuhnya sejak kelas 2 SMA hanya memperbolehkannya keluar rumah untuk Kursus bahasa Inggris.Keinginannya yang kuat untuk belajar dan bekerja mendorongnya untuk keluardari permasalahan rumit yang ia hadapi.Akhirnya Erwin memutuskan untuk meminta bantuan temannya yang mempunyai Ayah seorang konselor sekaligus supervisior di sebuah Lembaga Pemberdayaan Masyarakat.

Perjalanan yang cukup panjang berakhir dengan ditemukannya lokasi kantor Pak Tomo bertugas.Bangunan yang tua dan tak begitu tertata rapi sempat menimbulkan keraguan akan kebenarantempat yang didatanginya.Erwin mencoba memberanikan diri untuk masuk langsung mendatangi lantai 3 seperti yang diinformasikan temannya tersebut.

“Assalamu’alaikum,selamat pagi…” Erwin mengucap salam.

“Wa’alaikum salam Warrahmatullah Wabarakatuu,selamat pagi.Apakah ini benar Erwin yang kemarin putra saya ceritakan ya?” Jawab Pak Tomo sambil tersenyum dan menjabat tangan

” Benar Pak”

“Silahkan masuk..Silahkan duduk.Sebentar yah saya ambilkan minum…….”

“Tidak usah Pak merepotkan”

Erwin dibawa ke sebuah ruangan sederhana yang nyaman dengan cat berarna pastel yang menambah hangat suasana ruangan tersebut.

”Ahh tidak apa-apa.Silahkan diminum dulu”

“Terima Kasih Pak”

“Bagaimana tadi menemukan tempat Saya apakah sempat tersesat?”

“Cukup rumit Pak”

“Mmm….iya..iya..Bagaimana nih enaknya,Saya harus panggil Adik,Mas atau apa?”

”Erwin saja Pak” Jawab Erwin singkat.

”Oke kalau begitu kita sepakati berapa lama untuk pertemuan hari ini?”

”30 atau 50 menit” Jawab Erwin.”Bagaimana kalau 45 menit cukup?.Tanya Pak Tomo lagi..”Cukup pak,lagian setelah ini saya ada kegiatan lain..”

Akhirnya mereka menyepakati pertemuan sesi itu.[1]

”Boleh tau kegiatan Erwin apa saja?”

“Saya hanya Kursus Bahasa Inggris selebihnya diam di rumah”

“Memangnya Erwin ga sekolah atau bekerja?”

“Engga Pak,Saya keluar sebenarnya saya juga ingin bekerja”

”Loh Kenapa?” Tanya Pak Tomo penasaran.

”Ada problem….”Jawab Erwin sedih.

”Mmm..Problem bagaimana,Nampaknya Erwin mengalami kebingungan[2] boleh Bapak tahu?[3]”

”Gimana ya pak mulainya………” Erwin kebingungan menceritakan permasalahannya.

”Oke,kita sederhanakan,problemnya tentang teman atau keluarga?[4]

“Bukan Pak”

”Guru barangkali” Pak Tomo mencoba menebak-nebak

“Ga juga “

”Lalu?”[5]

”Sebenernya sih masalah kebebasan saya beragama dan kebebasan saya melanjutkan kehidupan ini pak” Jawab Erwin

“mmm…” Pak Tomo memandang Erwin dengan seksama.

”Saya dan Orang Tua berbeda agama.Saya yakin dengan apa yang saya anut,tapi orang tua melarang dan mengancam tidak akan menganggap saya sebagai keluarga jika masih tetap sebagai muslim”Lanjut Erwin

”Kok bisa”[6] tanya Pak Tomo

”Keluarga Saya semuanya Katolik,Saya masuk Islam waktu kelas 5 SD.Kedua Orang Tua Saya tidak mengetahuinya,Saya ga berani bilang,yang tau Cuma teman-teman Saya aja” Erwin mulai terbuka.

”Terus Ibadahnya gimana?sembunyi-sembunyi?[7]” Tanya Pak Tomo

Konseli :”Iyalah Pak,susah banget cari waktunya.Sampai waktu saya kelas 2 SMA ketauan sama orang tua dan mereka marah banget, jelas ga terima dan akhirnya saya dikeluarin dari sekolah. Soalnya orang tua saya menganggap saya jadi berubah karena lingkungan luar khususnya sekolah yang mayoritas siswa dan gurunya muslim.”

“Terus sekarang hubungan Erwin dengan orang tua dan keluarga bagaimana?[8]”

“Saya ga tinggal sama orang tua,mereka nitipin saya ke seorang pastur,saya tinggal di gereja dan ga boleh kemana-mana,saya sebenarnya ingin mengembangkan bakat,saya ingin bekerja,saya iri dengan teman-teman seusia saya yang sudah bisa menghidupi dirinya sendiri minimal.saya datang kesini juga sembunyi-sembunyi bilangnya mau kursus”

“Tapi Erwin bisa Pergi kursus?”

“Sebenernya saya kursus juga karena disuruh sama pastur itu,selebihnya saya ga kemana-mana”

”Di gereja itu ngapain aja?”

“Ya paling bantu beres-beres,bantu-bantu tiap ada kegiatan kegerejaan,saya tidak diperbolehkan bekerja diluar,dan otak saya lagi-lagi dijejal dengan ajaran-ajaran katolik itu,dan kalau kamu tau,saya bener-bener tertekan,mau ibadah susah,mau ngapa-ngapain susah.”

”Lalu tanggapan kamu bagaimana?[9]

”Saya tertarik dengan ajaran Islam.Konsep ketauhidannya bagus,dan saya juga ga tau gimana tertarik aja dan yakin sama ajarannya.Saya belajar temen banyaknya,kadang kalau mereka ada pengajian saya suka ikut.Tapi sekarang Saya ga bisa kemana-mana,sebenernya saya sudah ga tahaan tinggal di gereja itu.Saya ingin kabur”

”Saya paham,ketika apa yang kita pikirkan berbeda dengan orang lain[10]..Nah kalau mau kabur,kemana?

”Sebenernya belum berani ngambil resiko,saya takut sama orang tua”

“Jadi Erwin berpikiran bahwa kalau Erwin memilih menjadi muslim,akan dimusuhi keluarga,begitu?[11] Dan Erwin berpikiran akan bisa mendapat hidup yang lebih baik di luar gereja,begitu? Erwin tau kisah hijrah nabi Muhammad?”

”Sedikit tau Pak,tapi ceritain lagi aja???”

“Nah..Saat Islam pertama kali muncul Nabi Muhammad saw sebagai utusan sangat dibenci oleh kaum quraisy karena Islam dipandang sebagai agama baru yang merusak tatanan yang sudah ada sebelumnya.Pada mulanya Allah SWT memerintahkan untuk berdakwah secara sembunyi sembunyi untuk mengukuhkan ketauhidan kaum muslim saat itu.Setelah mulai ada kekuatan dengan masuknya Umar dan Hamzah,barulah Islam didakwahkan secara terang-terangan.Akan tetapi tidaklah mudah untuk berdakwah dan mengandung banyak Resiko.Keadaan masyarakat Muslim di makkah saat itu sangatlah mengkhawatirkan,kaum muslim di boikot,tidak bisa melakukan apa-apa kelaparan,tersiksa dan sebagainya,Akhirnya turunlah perintah untuk berhijrah ke Madinah.Orang-orang Madinah saat itu baik yang Muslim maupun belum menyambut kedatangan Nabi Muhammad beserta kaumnya dengan baik.Di Madinahlah Nabi Muhammad saw membangun Islam demikian pesat sangat berbeda dengan di Makkah tempat kelahirannya sendiri,Islam dan kenabiannya di tolak.Setelah bertahun lamanya dan keadaan mulai membaik,Islam bisa kembali masuk ke Makkah bahkan tentara islam yang ada setelah zaman tersebut dapat melakukan ekspansi ke seluruh penjuru dunia[12].Apa yang ada didepan kita belum mengetahui baik buruknya tapi kija kita tidak mencoba kita benar-benar tidak akan tahu[13]”

”Iya yah Pak,kita kan ga tau apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.Siapa tau diluar sana Erwin bisa dapat pekerjaan yang lingkungannya muslim dan tidak ada yang menghambat kemampuan Erwin,

”Nah itu Erwin lebih paham..”

”Tapi masih bingung…hehe…”

”Oke ,sekarang gini deh…Erwin yakin tetap memilih tinggal di gereja dan masih dianggap keluarga tapi susah untuk beribadah,bekerja dan belajar atau memberanikan diri keluar dari zona tersebut dan mencari tempat yang sekiranya lebih baik,tentu setiap pilihan ada resikonya? ”[14]

”Saya akan memilih mencari tempat lain Pak seperti pesantren misalnya,saya mungkin akan belajar sambil menemukan pekerjaan yang pas,minimal untuk mencukupi kebutuhan sendiri,baru setelah itu Erwin akan merancang karir yang maksimal kedepannya.Mungkin bapak punya rekomendasitempat ? Dan saya akan bicara baik-baik dengan keluarga apapun resikonya.Mungkin saja setelah saya lebih dewasa nanti orang tua dan keluarga akan lebih paham”

”Erwin tau kan kalau Allah akan menolong hambaNya jika benar-benar yakin padaNya,tetaplah beristiqamah,tetap berbuat baik pada orang tua apapun pilihan Erwin.[15]Untuk rekomendasi tempat dan pekerjaan Insya Allah nanti akan saya hubungi Erwin kembali”

”Iya Pak nanti akan Saya pikirkan kembali dan pertimbangkan waktu yang tepat.”

”Jadi kesimpulan pembicaraan kita dari awal adalah rencana Erwin akan berhijrah ke tempat yang lebih baik dengan resiko meninggalkan keluarga dan membicarakan hal ini-baik-baik,benar?[16]

Erwin mengangguk sembari memikirkan semua yang telah disampaikan Pak Tomo

“Nah sekarang bagaimana perasaan Erwin setelah mengungkapkan semua pada Saya?”[17]

”Saya dapat pencerahan Pak..”

”Baik kalau begitu..Setelah Erwin mengutarakan maksud yang Erwin inginkan pada Orang Tua apa yang akan dilakukan?”[18]

”Saya akan menghubungi Bapak kembali,Saya mencari pekerjaan untuk sementara waktu”

”Oke,apakah mau di akhiri saja sesi konseling ini atau bagaimana?”

”Iya Pak,cukup saja…terima kasih atas masukkannya,saya akan mencoba”

”Sama-sama,tetaplah yakin dan Istiqamah Saya yakin Erwin akan mendapatkan tempat yang lebih baik dan pekerjaan yang baik,mohon maaf apabila ada kata-kata Saya yang kurang berkenan”[19]

”kalau begitu saya pulang dulu Pak”

”Hati-hati Erwin..”

”Assalamu’alaikum..”

”Wa’alaikum Salam Warrahmatullah Wabarakatuuh..”

Akhirnya keresahan yang selama ini mengjinggapi pikirannya berkurang,Erwin semakin mantap untuk mencari tempat dan pekerjaan yang cocok setelah itu ia baru akan benar-benar merancang karirnya tanpa desakan orangtuanya yang khawatir setelah Ia menjadi Muslim.








[1] Attending dari awal penyambutan kedatangan Erwin


[2] Refleksi


[3] Membuka Pertanyaan


[4] Clarifying


[5] Dorongan Minimal


[6] Dorongan mininal


[7] Eksplorasi


[8] Fokus


[9] Eksplorasi


[10] Empati


[11] Paraphrasing


[12] Memberi Informasi


[13] Interpretasi


[14] Mengarahkan


[15] Nasihat


[16] Menyimpulkan


[17] Mengevaluasi


[18] Merencanakan Program


[19] Menutup sesi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar