RESUME BUKU
Judul :
Sosiologi Dakwah
Pengarang : Dr.Acep
Aripudin
Pengantar : Prof.Dr.Asep
Saeful Muhtadi,M.A
Penerbit : PT Remaja
Rosdakarya
(Cetakan Pertama,April 2013)
BAB 1
Teori Sosial Dakwah
Dakwah
merupakan respons kegelisahan para da’i
terhadaap fenomena yang terjadi dalam masyarakat,terutama
fenomena-fenomena sosial yang dianggap bertentangan dengaan ajaran-ajaaraan
islam.Islam digunakan sebagai parameter untuk melakukan perbaikan atas fenomena
yang terjadi tersebut.Beberapa da’i di Indonesia berdakwah menggunakan
pendekatan spiritual islam yang merupakan proses antisipasi para dai terhadap
gejala dan fenomena negatif yang datang dari dalam maupun luar diri mad’u yang dapat merusak
mental dan budaya umat.Model dakwah lain yang sering digunakan adalah dakwah
tradisi aatau tabligh dan dakwah yang mengubah tatanan sosial.
A.
Wilayah
Penyelidikan Sosiologi Dakwah
Sosiologi merupakan disiplin ilmu yang
mengkaji bentuk-bentuk kehidupan bersama manusia yang sering disebut dengan
masyarakat.Sebelum mengkaji sosiologi secara spesifik,maka harus terlebih
dahulu memahami sosiologi secara umum.Sosiologi dakwah mengkaji keseluruhan
sosial keseluruhan masyarakat dakwah yang meliputi hubungan dakwah dengan
ekonomi,politik, pendidikan,wanita,lingkungan hidup dan seterusnya,baik pada
ranah subjek dakwah,objek dakwah,materi dakwah,media dan tujuan dakwah.
B.
Teori Sosial
dan Fenomena Dakwah
a. Teori Struktural fungsional : Masyarakat
bergantung atas substruktur-substruktur yang saling bergantung dan setiap
subsstruktur yang sudah mapan,berfungsi sebagai penopang aktifitas
lainnyadaalam suatu sistem sosial.
b. Teori Konflik :
Berasumsi bahwa kegiatan ekonomisebagai faktor penentu utama semua kegiatan
kemasyarakatandan masyarakat dipandang sebagai penuh konflik dan perselisihan
bukannya konsensus dan kerja sama.
c.
Teori
Interaksionisme : Manusia dipandang mempelajari situasi situasi yang serasi
atau penuh penyimpangan,mempelajari transaksi politis dan ekonomis,situasi-situasi
dalam keluarga, pendidikan formal maupun informal.
d. Teori Strukturasi : Struktur tidak hanya
menghambat dan menentukan bentuk perilaku tapi juga memberikan kemampuan bagi
perilaku,memberikan kesempatan dan pembatasan.
C.
Sosiologi
Dakwah
Batasan empiris sosiologi dakwah terletak pada
misi sosiologis dalam agama.Sosiologi menelaah interaksi antara da’i dan
mad’u,da’i dan da’i,serta mad’u dan sesamanya.Sosiologi dakwah membaca
bagaimana dialektika interaktif unsur-unsur dalam dakwah dengan
lingkungannya,termasuk perkembangan pemaknaan dan praktik dakwah.Pemahaman dan
gerakan dakwah di Indonesia tampak lebih ramah terhadap nilai budaya lokal
sehingga dirassa lebih menyejukkan dan jauh dari hiruk pikuk pertikaian.
BAB 2
Mad’u Kontemporer : Problem,Tantangan,dan Prospek
Mad’u adalah sasaran dakwah
sebagai pribadi dan kelompok yang membutuhkan bimbingan menjadi manusia yang
sehat,sejahtera secara spiritual,material,emosional dan sosial berdasar pada
standar dan parameter nilai-nilai islam.
A.
Sasaran
Dakwah (Mad’u) Kelas Bawah
Persoalan utama yang dihadapi masyarakat
kelas bawah ialah masalah kebutuhan pangan,tempat tinggal dan
pendidikan.Penataan dan perbaikan terhadap persoalan tersebut tidak bisa
dilakukan dengan pendekatan dan cara dakwah konvensional seperti ceramah atau
seminar,melainkan kebutuhan utama kesejahteraan pangan harus terpenuhi,kemudian
pelan-pelan diberikan penyuluhan dan perbaikan.Masalah selanjutnya adalah
mengenai tempat tinggal,Dakwah dapat dilakukan dengan cara melakukan proses
pendewasaan dan melastarikan nilai0nilai ketahanan.Masalah lainnya adalah
mengenai pendidikan yang belum menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat.Dakwah
dilakukan dengan peningkatan kualitas lembaga pendidikan islam,karena
merupaakan menjadi dasar solusi dakwah paling terorganisasi.
B.
Problem
Dakwah Masyarakat Kelas Menengah
Masyarakat kelas menengah pada umumnya
terpelajar,bergelar,social urban dan profesional. Mereka adalah masyarakat yang
berada dibawah kelas atas dominan.Masyarakat kelas menengah membutuhkan
pelaksanaan dakwah yang faktual dan aktual.Di Indonesiapendekatan dakwah
terhadap masyarakat menengah banyak dilakukan oleh lembaga-lembaga kajian
khusus.
C.
Problem
Masyarakat Kelas Atas
Masyarakat kelas atas memiliki kehidupan yang
lebih dari cukup.Kebanyakan dari mereka adalah kelompok penguasa yang dapat
mengendalikan 90% penduduk mayoritas.Pada masa Wali Songo dakwah pada penguasa
dilakukan dengan cara kultural dan struktural bahkan dkawah melalui peperangan
atau kekuatan rakyat.Pendekatan dakwah harus dilakukan dengan
pendekatan-pendekatan global.
BAB 3 Media
Dakwah Pop
Kecenderungan
manusia dalam media ini,menyeret unsur-unsur sosial lainnya.
A.
Televisi
Televisi sebagai media
hiburan,informasi,pendidikan,dan politik,televisi digunakan sebagai media
dakwah,melalui siraman khusus keagamaan.Islam dalam tataran sosiologis akan
lebih menggema melalui media dakwah di televisi.
B.
Film
Film sebagai media pop dapat menyampaikan
pesan keislaman secara tidak langsung dan mudah untuk dapat diterima.
C.
Pers Pop
Penyampaian pesan-pesan dakwah pada surat
kabar dan majalah,lebih menitikberatkan pada desain grafis dan keindahan
visual.Meskipun penyampaian pesan pada media ini belum sepenuhnya mewakili
ppesan-pesan subtansif islam.
D.
Majalah
Penggunaan maajalah dalam dakwah islam
dapat mengakrabkan dunia islami dengan dunia manusiawi,serta dapat membumikan
islam.
E.
Musik Pop
Musik telah merajai tanah air dan dunia.Namun
lagu bernuansa religi masih rentan nilai doktrinnya.Lagu-lagu religi harus
dapat mengikuti dimensi psiko-religio-sosiologis rakyat.
F.
Fiksi
Tablig melalui media fiksi merupakan sarana
efektif membuat manusia berfantasi tentang islam,tentang kemajuan,tentang
masyarakat,tentang masa depan(akhirat) dan tentang kehidupan sesungguhnya.
BAB 4 Dakwah
di Perkotaan
A.
Karakteristik
Budaya Masyarakat Perkotaan
Wilayah kota dapat dijelaskaan dengan
variabel status sosial,segregasi etnis,dan budaya kota.Masyarakat kota umumnya
heterogen,pluralisme beragama tampak nyata,relatif menghormati waktu,banyak
menerima pelayaanan pendidikan yang memadai,memilki akses informasi lebih
cepat.
Terdapaat tiga kelompok yang merespon
kegamangan keberagamaan masyarakt kota,orang islam khususnya.Pertama,kelompik
yang menolak segala betuk yang tidak islami.Kedua,kelompok yang menerima baik
secara terpaksa maupun mengikuti segala pola hidup kota,meskipun akhirnya harus
memilih.Ketiga,menerima dan mengikuti setiap arus budaya yang datang dan
menganggap sebagai dari bagian kehidupan kota.
B.
Semarak
Dakwah di Perkotaan
Aktivitas-aktivitas keagamaan masyaarakat
kota,kaum muda khususnya sangat kuat.Umumnya kalangan pelajar dan mahasiswa.Bukti
semarak dakwah di kota adalah makin kuatnya umay islam dalam memperjuangkan
hak-haknya dengan cara masuk dalam struktur partai politik.
C.
Pendekatan
Dakwah Antarbudaya
Dakwah antarbudaya didefinisikan sebagai
proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman antara da’i,mad’u dan penyebab
terjadinya interaksi antara tingkat inter dan antar budaya agar pesan dakwah
dapat tersampaikan dan terpelihara dalam keadaan damai.Wujud produk antarbudaya
ialah terjadinya proses interaksi antara nilai islam dengan budaya lokal yang
menimbulkan pembauran yang saling mengisi.
D.
Tantangan
Dakwah pada era Demokrasi
Demokrasi berpengaruh pada pola hidup dan pola
interaksi antarindividu maupun antarsesama warga negara.Demokrasi menuntut
kebebasan dalam melakukan segala aktifitas.Demokrasi tidak ada dalam ajaran
islam,akan tetapi karena demokrasi adalah produk manusia,umat islam berhak
menjaganya.Demokrasi bergantung pada pemakainya.Demokrasi bukan budaya serba
bebas dan tanpa batas,tapi merupakan bentuk instrumentasi yang memerlukan
kesadaran dan ketahanan moral serta patuh pada aturan yang disepakati bersama.
BAB 5 Gerakan
Dakwah Kontemporer
A.
Jihad dan
Dakwah
Jihad jika dihubungkan dengan dakwah
diibaratkan fungsi mesin dalam sebuah kendaraan.Jihad adalah mesin yang mampu
mendorong dan menggerakkan komponen-komponen kendaraan sehingga bisa
bergerak.Berdakwah tanpa jihad akan terasa hambar karena tidak memiliki
kekuatan yang tidak mampu menembus batas-baats psikologi sasaran dakwah.Jihad
dalam dakwah merupakan alat.Jihad yang mengatasnamakan dakwah dengan
kekeraassan,menjadikan suatu persoalan karena tidak selarasnya pendekatan jihad
dengan persoalan yang dihadapi masyarakat.
B.
Fundamentalisme
dan Radikalisme
Fundamentalisme mengacu pada pemahaman
agama secara mendasar hingga ke akar kebahasaan dan intelektualitas.Radikalisme
meadukan pemahaman degan tindakan fisik.
Hulu radikalisme islam adalah gerakan
salafisme yang terjadi di Timur Tengah yang berwujud pada paham tokoh Muhammad
Ibnu Abdul Wahab.Gerakan dakwah tersebut akan menyudutkan islam pada kelompk
masyarakat yang cenderung ekslusif dari masyarakat umumnya.
C.
Menjamurnya
Sekte Keagamaan Islam
Agama asli di Indonesia terdapat 472 bentuk
ditambah lagi aaliran-aliran kebatinan yang terus bertambah.Terdapat tiga bentuk
respon masyarakat terhadap sekularisme.Pertama,respon masyarakat yang
menitikberatkaan pada dimensi terdalam dalam agama.Kedua,merespon kuatnya
sekularisme dengan memunculkan pendekatan fundamental dan radikal.
Ketiga,merespon dengan mengarah pada perusakan dan terorisme.
Pendekatan dakwah yang memungkinkan adalah
internalisasi bimbingan islam sebagai bagian dari pengawasan melekat terhadap
umat.
D.
Islam Liberal
Liberal Islam muncul berpijak pada asumsi
Barat tentang Islam yang dianggap tidak kompatibel dengan modernisasi dan
liberelisasi.Muslim liberal menerima gaagasan dan budaya barat tertentu
karenanya tidak statis tapi dinamis,terutama dari segi metodologi.Pembaruan
tersebut adalah gerakan dakwah yang lebih epistemologis dan bersifat
global.Kelemahaan gerakan ini adalah bahwa gerakan dan gagasan terbatas
dikonsumsi oleh kalangan masyarakat yang akrab dengan dunia ilmu dan
pengetahuan dan kalangan menengah atas yang terbatas.
E.
Kapitalisme
Dakwah
Gerakan dakah melalui media televisi telah
menjamur,diantara positifnya adalah : jangkauan dan sasaran lebih luas,pesan
disampaikan lebih cepat dan efektif,mendekatkan islam pada sasaran dakwah.Namun
terdapat pula kekurangannya : waktu tayang terbataas,pembahassan materi
dangkal,terbatasnya kemampuan da’i,orientasi media masih terfokus padda hiburan
dan informasi,cenderung informatif dan reaktif.
BAB 6 Fenomena
Mubalighah
Seiring
kencangnya suara wanita,media masa telah memainkan peran penting yang
mempublikasikan peran-peraan wanita muslim dalam dunia dakwah.Wanita dalam
dakwah mulai berperan secara signifikan.
A.
Wanita Dalam
Khazanah Tasawuf
Rabi’ah sebagai mistikus wanita muslim yang
patut diteladani wanita muslim zaman sekarang yang tangguh menjaga
kewanitaannya dari berbagai kecenderungan dunia/materi.Namun era sekarang
berbeda dengan era Rabi’ah.Sosiografi dakwah dalam pendekatan sufisme akan
memunculkaan tipe da’i/da’iyah : melakukan sikap proaktif tanpa harus menjaga
jarak dengan konteks masyarakat yang harus dihadapi,melakukan penolakan dengan
cara konfrontatif,menyusupkan nilai islam ke dalam pranata sosial tapi juga
menawarkan gerakan dengan konsep yang sistematis,terang-terangan menolak
interaksi dengan masyarakat umum.
B.
Feminisme dan
Isu Gender
Pengertian gender dalam spirit islam adalah
bahwa laki-laki dan perempuan memilki bagian,peran dan fungsi masing-masing
secara adil dan serasi.Persoalan gender dalam islam sesungguhnya lebih pada
persoalan bagaimana menafsirkan islam dalam konteks kultur manusia.
C.
Ulama Wanita
Konotasi ulama selalu identik dengan
laki-laki.Secara sosiologis,ulama perempuan ditenggelam kan oleh pengaruh
laki-laki.Pada era sekarang kebangkitan kaum oerempuan mendapatkan angin segar
karena kiprah mereka dalam dunia publik dan intelektual.Ulama perempuan telah
mendapatkan dukungan sosial meskipun harus berjuang dari bawah.Peluang wanita
menjadi ulama mendapatkan pijakan etis dan teologis dalam islam.Islam
mengajarkan sisi persamaan antara laki-laki dan perempuan.Laki-laki dan
perempuan akan sama-sama mendapatkan pahala jika melakukan kebaikan.Wanita juga
bis amenjadi pemimpin.
D.
Da’i Wanita
(Da’iyah)
Pemberdayaan wanita mengacu pada
persoalan-persoalan yang dihadapinya hendaknya dapat dilakukan oleh dirinya
sendiri,terutama tugas da’iyah dalam melaksanakan dakwah.Wanita harus memiliki
kemauan mengubah dirinya mulai dari diri sendiri.
Penguatan terhadap studi-studi wanita belum
menyentuh problem wanita dalam masyarakat banyak dikarenakan persoalan kuatnya
dominasi laki-laki dalam posisi publik karena faktor sejarah,kuatnya image
wanita dalam diri,kapitalisasi media massa yang mengekpos wanita secara masif
dan menonjolkan sisi sensual wanita.
Wanita memiliki kesamaan peluang dengan
laki-laki dalam peran sosialnya,karena iklim keterbukaan memberi ruang lebih
objektif bagi siapa saja yan berkualitas,makin tumbuhny kesadaran dalam diri
wanita untuk ikut serta dalam segman pembangunan,agam sebagai pijakan normatif
telah dikaji luas oleh wanita,makin ternukanya kerjasma antara laki-laki dan
wanita dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya.
E.
Da’iyah di
Televisi
Tampilnya da’iyah di publik memberikan kesan
bahwa eksploitasi wanita mulai mendapat usaha untuk mengimbanginya.Beberapa
alasan munculnya da’i wanita di televisi sebagai segmen perubahan yang memacu
kaum wanita lainnya : Era perubahan yang memberi peluang lebih leluasa pada
wanita untuk tampil di muka publik,publisitas wanita memberi inspirasi
kompetitif daintara para wanita untuk berperan sesuai kapasitas kemampuan,peran
da’iyah di televisi memiliki daya tarik tersendiri,makin luasnya kesadaran
wanita agar lebih berperan aktif dalam mengisi peran tertentu tanpa bergantung
pada keputusan sepihak lak-laki.
BAB 7 Isu
dan Masalah Kontemporer Dakwah
A.
Religiusitas
Kontra Sekularisme
Demonstrasi menguatnya religiusitas
masyarakat,kukuh hingga era refofmasi sekarang dengan munculnya
organisasi-organisai sosial,politik,ekonomi berlabel agama.Beberapa pendapat
mengatakan bahwa agama merupakan persoalan dunia karena bersifat sekuler.Makin
mapan suatu masyarakat,makin menurun pula timngkat religiusitasnya.Semangat
religiusitas tam[pak pada keterlibatan umat beragama dalam mengikuti ritual
keagamaan.Agama dan segala atributnya masih laris menjadi komoditi untuk
mendapatkan materi.
B.
Kekerasan
Sosial & Agama
Kekerasan bukan hal baru dlam kehidupan
manusia.Agresi sebagai akar kekerasan bergerak depan ke arah tujuan tanpa rasa
segan.Perilaku agresif pada dasarnya bukan merupakan reaksi terhadap stimulasi
luar,melainkan rangsangan yang sudah terpasang secara mekanik dan mencari
pelampiasan dan diekspresikan sekalipun dengan rangsangan luar yang sangat
kecil.Proses penaggulaangan terhadap kekerasan dilakukan dengan dua cara,yaitu
proses pembudayaan nilai-nilai positif secara normal dan membuat desain budaya.
Dalam perspektif islam,potensi merusak ada
pada manusia karena dorongan hawa nafsu,lebih tepatnya nafsu
lawamah.Penanggulangan terhadap tindak anarkis dan kekerasn dilakukan dengan
upaya sosialisasi pendidikan,kebudayaan dan agama,upaya serius pemerintah dalam
melakukan pendidikan dalam melestarikan budaya,pada tokoh agama khususnya
melakukan penggalian agama yang lebih kontekstual,melakukan pengawasan melekat
oleh seluruh elemen masyarakat,adanya tindakan kepastian hukum dari aparat
berwenang terhadap pelaku kekerasan.
C.
Korupsi dan
Fungsionalisasi Pendidikan
Praktik korupsi di Indonesia umumnya
dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi.Hal tersebut bisa saja
dikarenakan orientasi pendidikan yang hanya menitikberatkan pada kemampuan IQ
saja tanpa disertai muatan moral.Adanya hubungan antara korupsi oleh para
sarjana selama ini mengharuskan adanya tindakan dari perguruan tinggi,semisal
perguruan tinggi harus memiliki orientasi pada penciptaan lulusan unggul
berkualitas,lembaga pendidikan melakukan intensifikasi pendidikan moral dan
karakter,melakukan kerja sama dengan media masa dalam penyebaran informasi
proses pendidikan yang baik,adanya kesadaran dari guru besar agar memberikan
contoh yang baik dan benar.
D.
Dakwah
Sufistik
Metode pendekatan sufistik merupakaan salah
satu poendodong suksesnya dakwah islam di Indonesia.Prektik dakwah sufistik
sampai sekarang masih bertahan bahkan dikembangkan dalam bentuk-bentuk tertentu
yang lebih pop.Efek langsung dari dakwah sufistik adalah penajaman dan kepekaan
rohani yang akan muncul dalam bentuk kekuatan moral dan perilaku etis.
E.
Dimensi
Peringatan Maulid Nabi
Peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan
pada masa Shalahudin Al-Ayubi dengan tujuuan membangkitkan kembali semangat
keislaman yang telah luntur,membangkitkan kembali kerinduan kepada nabi dengan
cara menggali tarikh Nabi,memurnikan kembali ajaran islam yang sudah
terkontaminasi taakhayul,syirik,bid’ah,khurafat dan membina generasi muda agar
mencintai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan Maulid Nabi yang sekarang
dilakukan masyarakat harus lebih membawa manfaat bagi umat agar dana,pikiran
dan tenaga lebih berdaya dan berguna.Tujuan semula peringatan Maulid Nabi
berubah menjadi semangat komunal dan demonstrasi maasa gunamenunjuka kuantitas
umat islam,faktanya setiap perayaan tersebut penuh resiko keamanan dan
ketertiban.
F.
Fatwa BBM
Ulama
Fatwa kontroversi banyak menimbulkan
masalah.Fakta pengharaaman suatu hal harus mempertimbangkan realitas sosial
yang terjadi pada masyarakat secara faktal dan komprehensif.Lepas dari
kotroversi fatwa-fatwa MUI,bisa dibenarkan jika maksudnya adalah imbauan agar masyarakat
mampu tidak mengonsumsi BBM bersubsidi karena tidak sesuai dengan target
peruntukkannya.
G.
Fenomena
Dakwah di Televisi
Media yang paling berpengarh dan populer
dijadikan media dakwah adalah televisi dan majalah karena jangkaauannya
luas,sehingga aagen dakwah dapat lebih dekat dengan umat.Intensifikasi program
dakwah di televisi pada setiap bulan ramadhan merupakaan momen paling strategis
dalam mengupas pesan-pesan religi Islam.
H.
Jihad Konteks
Indonesia
Jihad dalam konteks Indonesia sekarang
adalah menumbuhkan kesungguhan keluar dari problem-problem kerakyatan dan
kebangsaan.
I.
Dakwah
Kontemporer
Islam merupakan agama dakwah atau agama
misi didunia.Persoalannya adalah mengenai mendakwahkan islam diantara
masyarakat multibudaya,lainnya adalah dakwah melalui pendidikan unggul yang
belum mencapai realitas kehidupan umat,isu lain adalah mengenai kerusakan
lingkungan dan terakhir tugas da’i yang berat yaitu melemahnya karakter
generasi muda.Tahapan yang harus dilakukan adalah keteladanan da’i dan
pembiasaan dalam melakukan amal baik.
J.
Krisis Air
Bersih
Air merupakan kebutuhan utama manusia.Namun
keberadaan air bersih semakin hari semakin menyusut.hal ini dikarenakan
pengelolaan air oleh perusahaan tertentu yang menyedot air secara
besar-besaran.Agama kita mengajarkan bahwa kebutuhan umum tidak boleh diurus
pribadi atau perusahaan apalagi di eksploitasi.
Problem air merupakan problem serius yang harus
segera diantisipasi.Ditengah keterbatasan pemerintah,masyarakat sudah saaynta
bersungguh sungguh dalam pemeliharaan persediaan air.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar