Kamis, 21 Mei 2015

Sosiologi Dakwah

RESUME BUKU
Judul               : Sosiologi Dakwah
Pengarang       : Dr.Acep Aripudin
Pengantar        : Prof.Dr.Asep Saeful Muhtadi,M.A
Penerbit           : PT Remaja Rosdakarya
  (Cetakan Pertama,April 2013)

BAB 1    Teori Sosial Dakwah
        Dakwah merupakan respons kegelisahan para da’i  terhadaap fenomena yang terjadi dalam masyarakat,terutama fenomena-fenomena sosial yang dianggap bertentangan dengaan ajaran-ajaaraan islam.Islam digunakan sebagai parameter untuk melakukan perbaikan atas fenomena yang terjadi tersebut.Beberapa da’i di Indonesia berdakwah menggunakan pendekatan spiritual islam yang merupakan proses antisipasi para dai terhadap gejala dan fenomena negatif yang datang dari dalam  maupun luar diri mad’u yang dapat merusak mental dan budaya umat.Model dakwah lain yang sering digunakan adalah dakwah tradisi aatau tabligh dan dakwah yang mengubah tatanan sosial.
A.   Wilayah Penyelidikan Sosiologi Dakwah
Sosiologi merupakan disiplin ilmu yang mengkaji bentuk-bentuk kehidupan bersama manusia yang sering disebut dengan masyarakat.Sebelum mengkaji sosiologi secara spesifik,maka harus terlebih dahulu memahami sosiologi secara umum.Sosiologi dakwah mengkaji keseluruhan sosial keseluruhan masyarakat dakwah yang meliputi hubungan dakwah dengan ekonomi,politik, pendidikan,wanita,lingkungan hidup dan seterusnya,baik pada ranah subjek dakwah,objek dakwah,materi dakwah,media dan tujuan dakwah.

B.    Teori Sosial dan Fenomena Dakwah
a.  Teori Struktural fungsional : Masyarakat bergantung atas substruktur-substruktur yang saling bergantung dan setiap subsstruktur yang sudah mapan,berfungsi sebagai penopang aktifitas lainnyadaalam suatu sistem sosial.
b.  Teori Konflik : Berasumsi bahwa kegiatan ekonomisebagai faktor penentu utama semua kegiatan kemasyarakatandan masyarakat dipandang sebagai penuh konflik dan perselisihan bukannya konsensus dan kerja sama.
c.   Teori Interaksionisme : Manusia dipandang mempelajari situasi situasi yang serasi atau penuh penyimpangan,mempelajari transaksi politis dan ekonomis,situasi-situasi dalam keluarga, pendidikan formal maupun informal.
d.  Teori Strukturasi : Struktur tidak hanya menghambat dan menentukan bentuk perilaku tapi juga memberikan kemampuan bagi perilaku,memberikan kesempatan dan pembatasan.

C.        Sosiologi Dakwah
Batasan empiris sosiologi dakwah terletak pada misi sosiologis dalam agama.Sosiologi menelaah interaksi antara da’i dan mad’u,da’i dan da’i,serta mad’u dan sesamanya.Sosiologi dakwah membaca bagaimana dialektika interaktif unsur-unsur dalam dakwah dengan lingkungannya,termasuk perkembangan pemaknaan dan praktik dakwah.Pemahaman dan gerakan dakwah di Indonesia tampak lebih ramah terhadap nilai budaya lokal sehingga dirassa lebih menyejukkan dan jauh dari hiruk pikuk pertikaian.
BAB 2    Mad’u Kontemporer : Problem,Tantangan,dan Prospek
      Mad’u adalah sasaran dakwah sebagai pribadi dan kelompok yang membutuhkan bimbingan menjadi manusia yang sehat,sejahtera secara spiritual,material,emosional dan sosial berdasar pada standar dan parameter nilai-nilai islam.
A.   Sasaran Dakwah (Mad’u) Kelas Bawah
Persoalan utama yang dihadapi masyarakat kelas bawah ialah masalah kebutuhan pangan,tempat tinggal dan pendidikan.Penataan dan perbaikan terhadap persoalan tersebut tidak bisa dilakukan dengan pendekatan dan cara dakwah konvensional seperti ceramah atau seminar,melainkan kebutuhan utama kesejahteraan pangan harus terpenuhi,kemudian pelan-pelan diberikan penyuluhan dan perbaikan.Masalah selanjutnya adalah mengenai tempat tinggal,Dakwah dapat dilakukan dengan cara melakukan proses pendewasaan dan melastarikan nilai0nilai ketahanan.Masalah lainnya adalah mengenai pendidikan yang belum menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat.Dakwah dilakukan dengan peningkatan kualitas lembaga pendidikan islam,karena merupaakan menjadi dasar solusi dakwah paling terorganisasi.

B.    Problem Dakwah Masyarakat Kelas Menengah
Masyarakat kelas menengah pada umumnya terpelajar,bergelar,social urban dan profesional. Mereka adalah masyarakat yang berada dibawah kelas atas dominan.Masyarakat kelas menengah membutuhkan pelaksanaan dakwah yang faktual dan aktual.Di Indonesiapendekatan dakwah terhadap masyarakat menengah banyak dilakukan oleh lembaga-lembaga kajian khusus.

C.    Problem Masyarakat Kelas Atas
Masyarakat kelas atas memiliki kehidupan yang lebih dari cukup.Kebanyakan dari mereka adalah kelompok penguasa yang dapat mengendalikan 90% penduduk mayoritas.Pada masa Wali Songo dakwah pada penguasa dilakukan dengan cara kultural dan struktural bahkan dkawah melalui peperangan atau kekuatan rakyat.Pendekatan dakwah harus dilakukan dengan pendekatan-pendekatan global.
BAB 3    Media Dakwah Pop
        Kecenderungan manusia dalam media ini,menyeret unsur-unsur sosial lainnya.
A.   Televisi
Televisi sebagai media hiburan,informasi,pendidikan,dan politik,televisi digunakan sebagai media dakwah,melalui siraman khusus keagamaan.Islam dalam tataran sosiologis akan lebih menggema melalui media dakwah di televisi.
B.    Film
Film sebagai media pop dapat menyampaikan pesan keislaman secara tidak langsung dan mudah untuk dapat diterima.
C.    Pers Pop
Penyampaian pesan-pesan dakwah pada surat kabar dan majalah,lebih menitikberatkan pada desain grafis dan keindahan visual.Meskipun penyampaian pesan pada media ini belum sepenuhnya mewakili ppesan-pesan subtansif islam.
D.   Majalah
Penggunaan maajalah dalam dakwah islam dapat mengakrabkan dunia islami dengan dunia manusiawi,serta dapat membumikan islam.
E.    Musik Pop
Musik telah merajai tanah air dan dunia.Namun lagu bernuansa religi masih rentan nilai doktrinnya.Lagu-lagu religi harus dapat mengikuti dimensi psiko-religio-sosiologis rakyat.
F.    Fiksi
Tablig melalui media fiksi merupakan sarana efektif membuat manusia berfantasi tentang islam,tentang kemajuan,tentang masyarakat,tentang masa depan(akhirat) dan tentang kehidupan sesungguhnya.
BAB 4    Dakwah di Perkotaan
A.   Karakteristik Budaya Masyarakat Perkotaan
Wilayah kota dapat dijelaskaan dengan variabel status sosial,segregasi etnis,dan budaya kota.Masyarakat kota umumnya heterogen,pluralisme beragama tampak nyata,relatif menghormati waktu,banyak menerima pelayaanan pendidikan yang memadai,memilki akses informasi lebih cepat.
Terdapaat tiga kelompok yang merespon kegamangan keberagamaan masyarakt kota,orang islam khususnya.Pertama,kelompik yang menolak segala betuk yang tidak islami.Kedua,kelompok yang menerima baik secara terpaksa maupun mengikuti segala pola hidup kota,meskipun akhirnya harus memilih.Ketiga,menerima dan mengikuti setiap arus budaya yang datang dan menganggap sebagai dari bagian kehidupan kota.

B.    Semarak Dakwah di Perkotaan
Aktivitas-aktivitas keagamaan masyaarakat kota,kaum muda khususnya sangat kuat.Umumnya kalangan pelajar dan mahasiswa.Bukti semarak dakwah di kota adalah makin kuatnya umay islam dalam memperjuangkan hak-haknya dengan cara masuk dalam struktur partai politik.

C.    Pendekatan Dakwah Antarbudaya
Dakwah antarbudaya didefinisikan sebagai proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman antara da’i,mad’u dan penyebab terjadinya interaksi antara tingkat inter dan antar budaya agar pesan dakwah dapat tersampaikan dan terpelihara dalam keadaan damai.Wujud produk antarbudaya ialah terjadinya proses interaksi antara nilai islam dengan budaya lokal yang menimbulkan pembauran yang saling mengisi.

D.   Tantangan Dakwah pada era Demokrasi
Demokrasi berpengaruh pada pola hidup dan pola interaksi antarindividu maupun antarsesama warga negara.Demokrasi menuntut kebebasan dalam melakukan segala aktifitas.Demokrasi tidak ada dalam ajaran islam,akan tetapi karena demokrasi adalah produk manusia,umat islam berhak menjaganya.Demokrasi bergantung pada pemakainya.Demokrasi bukan budaya serba bebas dan tanpa batas,tapi merupakan bentuk instrumentasi yang memerlukan kesadaran dan ketahanan moral serta patuh pada aturan yang disepakati bersama.
BAB 5    Gerakan Dakwah Kontemporer
A.   Jihad dan Dakwah
Jihad jika dihubungkan dengan dakwah diibaratkan fungsi mesin dalam sebuah kendaraan.Jihad adalah mesin yang mampu mendorong dan menggerakkan komponen-komponen kendaraan sehingga bisa bergerak.Berdakwah tanpa jihad akan terasa hambar karena tidak memiliki kekuatan yang tidak mampu menembus batas-baats psikologi sasaran dakwah.Jihad dalam dakwah merupakan alat.Jihad yang mengatasnamakan dakwah dengan kekeraassan,menjadikan suatu persoalan karena tidak selarasnya pendekatan jihad dengan persoalan yang dihadapi masyarakat.

B.    Fundamentalisme dan Radikalisme
Fundamentalisme mengacu pada pemahaman agama secara mendasar hingga ke akar kebahasaan dan intelektualitas.Radikalisme meadukan pemahaman degan tindakan fisik.
Hulu radikalisme islam adalah gerakan salafisme yang terjadi di Timur Tengah yang berwujud pada paham tokoh Muhammad Ibnu Abdul Wahab.Gerakan dakwah tersebut akan menyudutkan islam pada kelompk masyarakat yang cenderung ekslusif dari masyarakat umumnya.

C.    Menjamurnya Sekte Keagamaan Islam
Agama asli di Indonesia terdapat 472 bentuk ditambah lagi aaliran-aliran kebatinan yang terus bertambah.Terdapat tiga bentuk respon masyarakat terhadap sekularisme.Pertama,respon masyarakat yang menitikberatkaan pada dimensi terdalam dalam agama.Kedua,merespon kuatnya sekularisme dengan memunculkan pendekatan fundamental dan radikal. Ketiga,merespon dengan mengarah pada perusakan dan terorisme.
Pendekatan dakwah yang memungkinkan adalah internalisasi bimbingan islam sebagai bagian dari pengawasan melekat terhadap umat.

D.   Islam Liberal
Liberal Islam muncul berpijak pada asumsi Barat tentang Islam yang dianggap tidak kompatibel dengan modernisasi dan liberelisasi.Muslim liberal menerima gaagasan dan budaya barat tertentu karenanya tidak statis tapi dinamis,terutama dari segi metodologi.Pembaruan tersebut adalah gerakan dakwah yang lebih epistemologis dan bersifat global.Kelemahaan gerakan ini adalah bahwa gerakan dan gagasan terbatas dikonsumsi oleh kalangan masyarakat yang akrab dengan dunia ilmu dan pengetahuan dan kalangan menengah atas yang terbatas.

E.    Kapitalisme Dakwah
Gerakan dakah melalui media televisi telah menjamur,diantara positifnya adalah : jangkauan dan sasaran lebih luas,pesan disampaikan lebih cepat dan efektif,mendekatkan islam pada sasaran dakwah.Namun terdapat pula kekurangannya : waktu tayang terbataas,pembahassan materi dangkal,terbatasnya kemampuan da’i,orientasi media masih terfokus padda hiburan dan informasi,cenderung informatif dan reaktif.
BAB 6    Fenomena Mubalighah
        Seiring kencangnya suara wanita,media masa telah memainkan peran penting yang mempublikasikan peran-peraan wanita muslim dalam dunia dakwah.Wanita dalam dakwah mulai berperan secara signifikan.
A.   Wanita Dalam Khazanah Tasawuf
Rabi’ah sebagai mistikus wanita muslim yang patut diteladani wanita muslim zaman sekarang yang tangguh menjaga kewanitaannya dari berbagai kecenderungan dunia/materi.Namun era sekarang berbeda dengan era Rabi’ah.Sosiografi dakwah dalam pendekatan sufisme akan memunculkaan tipe da’i/da’iyah : melakukan sikap proaktif tanpa harus menjaga jarak dengan konteks masyarakat yang harus dihadapi,melakukan penolakan dengan cara konfrontatif,menyusupkan nilai islam ke dalam pranata sosial tapi juga menawarkan gerakan dengan konsep yang sistematis,terang-terangan menolak interaksi dengan masyarakat umum.

B.    Feminisme dan Isu Gender
Pengertian gender dalam spirit islam adalah bahwa laki-laki dan perempuan memilki bagian,peran dan fungsi masing-masing secara adil dan serasi.Persoalan gender dalam islam sesungguhnya lebih pada persoalan bagaimana menafsirkan islam dalam konteks kultur manusia.

C.    Ulama Wanita
Konotasi ulama selalu identik dengan laki-laki.Secara sosiologis,ulama perempuan ditenggelam kan oleh pengaruh laki-laki.Pada era sekarang kebangkitan kaum oerempuan mendapatkan angin segar karena kiprah mereka dalam dunia publik dan intelektual.Ulama perempuan telah mendapatkan dukungan sosial meskipun harus berjuang dari bawah.Peluang wanita menjadi ulama mendapatkan pijakan etis dan teologis dalam islam.Islam mengajarkan sisi persamaan antara laki-laki dan perempuan.Laki-laki dan perempuan akan sama-sama mendapatkan pahala jika melakukan kebaikan.Wanita juga bis amenjadi pemimpin.

D.   Da’i Wanita (Da’iyah)
Pemberdayaan wanita mengacu pada persoalan-persoalan yang dihadapinya hendaknya dapat dilakukan oleh dirinya sendiri,terutama tugas da’iyah dalam melaksanakan dakwah.Wanita harus memiliki kemauan mengubah dirinya mulai dari diri sendiri.
Penguatan terhadap studi-studi wanita belum menyentuh problem wanita dalam masyarakat banyak dikarenakan persoalan kuatnya dominasi laki-laki dalam posisi publik karena faktor sejarah,kuatnya image wanita dalam diri,kapitalisasi media massa yang mengekpos wanita secara masif dan menonjolkan sisi sensual wanita.
Wanita memiliki kesamaan peluang dengan laki-laki dalam peran sosialnya,karena iklim keterbukaan memberi ruang lebih objektif bagi siapa saja yan berkualitas,makin tumbuhny kesadaran dalam diri wanita untuk ikut serta dalam segman pembangunan,agam sebagai pijakan normatif telah dikaji luas oleh wanita,makin ternukanya kerjasma antara laki-laki dan wanita dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya.
E.    Da’iyah di Televisi
Tampilnya da’iyah di publik memberikan kesan bahwa eksploitasi wanita mulai mendapat usaha untuk mengimbanginya.Beberapa alasan munculnya da’i wanita di televisi sebagai segmen perubahan yang memacu kaum wanita lainnya : Era perubahan yang memberi peluang lebih leluasa pada wanita untuk tampil di muka publik,publisitas wanita memberi inspirasi kompetitif daintara para wanita untuk berperan sesuai kapasitas kemampuan,peran da’iyah di televisi memiliki daya tarik tersendiri,makin luasnya kesadaran wanita agar lebih berperan aktif dalam mengisi peran tertentu tanpa bergantung pada keputusan sepihak lak-laki.
BAB 7    Isu dan Masalah Kontemporer Dakwah
A.   Religiusitas Kontra Sekularisme
Demonstrasi menguatnya religiusitas masyarakat,kukuh hingga era refofmasi sekarang dengan munculnya organisasi-organisai sosial,politik,ekonomi berlabel agama.Beberapa pendapat mengatakan bahwa agama merupakan persoalan dunia karena bersifat sekuler.Makin mapan suatu masyarakat,makin menurun pula timngkat religiusitasnya.Semangat religiusitas tam[pak pada keterlibatan umat beragama dalam mengikuti ritual keagamaan.Agama dan segala atributnya masih laris menjadi komoditi untuk mendapatkan materi.

B.    Kekerasan Sosial & Agama
Kekerasan bukan hal baru dlam kehidupan manusia.Agresi sebagai akar kekerasan bergerak depan ke arah tujuan tanpa rasa segan.Perilaku agresif pada dasarnya bukan merupakan reaksi terhadap stimulasi luar,melainkan rangsangan yang sudah terpasang secara mekanik dan mencari pelampiasan dan diekspresikan sekalipun dengan rangsangan luar yang sangat kecil.Proses penaggulaangan terhadap kekerasan dilakukan dengan dua cara,yaitu proses pembudayaan nilai-nilai positif secara normal dan membuat desain budaya.
Dalam perspektif islam,potensi merusak ada pada manusia karena dorongan hawa nafsu,lebih tepatnya nafsu lawamah.Penanggulangan terhadap tindak anarkis dan kekerasn dilakukan dengan upaya sosialisasi pendidikan,kebudayaan dan agama,upaya serius pemerintah dalam melakukan pendidikan dalam melestarikan budaya,pada tokoh agama khususnya melakukan penggalian agama yang lebih kontekstual,melakukan pengawasan melekat oleh seluruh elemen masyarakat,adanya tindakan kepastian hukum dari aparat berwenang terhadap pelaku kekerasan.

C.    Korupsi dan Fungsionalisasi Pendidikan
Praktik korupsi di Indonesia umumnya dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi.Hal tersebut bisa saja dikarenakan orientasi pendidikan yang hanya menitikberatkan pada kemampuan IQ saja tanpa disertai muatan moral.Adanya hubungan antara korupsi oleh para sarjana selama ini mengharuskan adanya tindakan dari perguruan tinggi,semisal perguruan tinggi harus memiliki orientasi pada penciptaan lulusan unggul berkualitas,lembaga pendidikan melakukan intensifikasi pendidikan moral dan karakter,melakukan kerja sama dengan media masa dalam penyebaran informasi proses pendidikan yang baik,adanya kesadaran dari guru besar agar memberikan contoh yang baik dan benar.

D.   Dakwah Sufistik
Metode pendekatan sufistik merupakaan salah satu poendodong suksesnya dakwah islam di Indonesia.Prektik dakwah sufistik sampai sekarang masih bertahan bahkan dikembangkan dalam bentuk-bentuk tertentu yang lebih pop.Efek langsung dari dakwah sufistik adalah penajaman dan kepekaan rohani yang akan muncul dalam bentuk kekuatan moral dan perilaku etis.

E.    Dimensi Peringatan Maulid Nabi
Peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan pada masa Shalahudin Al-Ayubi dengan tujuuan membangkitkan kembali semangat keislaman yang telah luntur,membangkitkan kembali kerinduan kepada nabi dengan cara menggali tarikh Nabi,memurnikan kembali ajaran islam yang sudah terkontaminasi taakhayul,syirik,bid’ah,khurafat dan membina generasi muda agar mencintai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan Maulid Nabi yang sekarang dilakukan masyarakat harus lebih membawa manfaat bagi umat agar dana,pikiran dan tenaga lebih berdaya dan berguna.Tujuan semula peringatan Maulid Nabi berubah menjadi semangat komunal dan demonstrasi maasa gunamenunjuka kuantitas umat islam,faktanya setiap perayaan tersebut penuh resiko keamanan dan ketertiban.

F.    Fatwa BBM Ulama
Fatwa kontroversi banyak menimbulkan masalah.Fakta pengharaaman suatu hal harus mempertimbangkan realitas sosial yang terjadi pada masyarakat secara faktal dan komprehensif.Lepas dari kotroversi fatwa-fatwa MUI,bisa dibenarkan jika maksudnya adalah imbauan agar masyarakat mampu tidak mengonsumsi BBM bersubsidi karena tidak sesuai dengan target peruntukkannya.

G.   Fenomena Dakwah di Televisi
Media yang paling berpengarh dan populer dijadikan media dakwah adalah televisi dan majalah karena jangkaauannya luas,sehingga aagen dakwah dapat lebih dekat dengan umat.Intensifikasi program dakwah di televisi pada setiap bulan ramadhan merupakaan momen paling strategis dalam mengupas pesan-pesan religi Islam.

H.   Jihad Konteks Indonesia
Jihad dalam konteks Indonesia sekarang adalah menumbuhkan kesungguhan keluar dari problem-problem kerakyatan dan kebangsaan.

I.      Dakwah Kontemporer
Islam merupakan agama dakwah atau agama misi didunia.Persoalannya adalah mengenai mendakwahkan islam diantara masyarakat multibudaya,lainnya adalah dakwah melalui pendidikan unggul yang belum mencapai realitas kehidupan umat,isu lain adalah mengenai kerusakan lingkungan dan terakhir tugas da’i yang berat yaitu melemahnya karakter generasi muda.Tahapan yang harus dilakukan adalah keteladanan da’i dan pembiasaan dalam melakukan amal baik.

J.     Krisis Air Bersih
Air merupakan kebutuhan utama manusia.Namun keberadaan air bersih semakin hari semakin menyusut.hal ini dikarenakan pengelolaan air oleh perusahaan tertentu yang menyedot air secara besar-besaran.Agama kita mengajarkan bahwa kebutuhan umum tidak boleh diurus pribadi atau perusahaan apalagi di eksploitasi.

Problem air merupakan problem serius yang harus segera diantisipasi.Ditengah keterbatasan pemerintah,masyarakat sudah saaynta bersungguh sungguh dalam pemeliharaan persediaan air. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar