Dear, Anesti Apsari
Aku tulis surat ini dengan segenap hati, meski ada perasaan aneh juga aku nulis yang beginian.
Hey Anes ! Aku belum bener-bener kenal sama kamu, kadang suka aneh kenapa kalau lagi sedih, sedih banget, melow engga jelas. Kadang kalo lagi seneng juga suka berlebihan.
Dear Anes, kamu adalah perempuan yang seharusnya aku banggain.
Aku mencintai diri kamu dengan segala kekuranganmu, meski awalnya aku ga bisa terima itu. Aku juga mencintai diri kamu dengan segala kelebihanmu, meski kamu belum sepenuhnya percaya diri dengan kelebihan itu.
Nes, aku sedih kalo kamu tersakiti, tapi itu bagian dari hidup, pasti ada sakitnya pasti ada senengnya. Sesekali kasih hadiah buat diri sendiri kalo lagi ada uangnya. Biar ada sesuatu yang membahagiakan lah.
Oiya..kamu juga ga usah mikirin orang yang ga mikirin kamu, buangin waktu!
Dear Anes, inget ya jangan boros, jangan jajan terus, kasian mamah sama ayah. Mungkin kamu ngerasa gampang dapet apapun, tapi kayanya mereka susah payah supaya kamu dapet yang kamu mau.
Dear Anes, kamu punya cita-cita sama harapan yang menurutku bagus. Inget-inget hal itu, gimana biar kecapai dan tetep semangat buat ngejarnya.
Kamu harus bisa belajar yang baik. Ibadah yang baik, jangan cuma yang wajib aja, sunnahnya juga harus dikerjain.
Semoga nanti Anes bisa jadi orang yang lebih baik lagi.
Salam,
Dari Anes di tahun 2008 untuk Anes yang lebih baik.
Rasanya senang, lucu, sedih juga ketika Anes membaca sepucuk surat yang ditemukannya di kaleng bekas wafer itu. Surat cinta itu Anes buat untuk dirinya sendiri, atas saran kak Nia, tutor nya belajar bahasa Inggris di tempat lesnya dulu. Sembilan belas tahun yang lalu, Anes masih kelas dua SMP, masih remaja yang banyak galaunya. Kak Nia, bagi Anes merupakan motivator juara. Beliau bisa membuat Anes menjadi remaja yang percaya diri, bersyukur, dan mencintai dirinya. Semula Anes adalah anak yang minder dengan kekurangan fisik yang dimilikinya, tapi sekarang sudah tidak minder lagi. Kak Nia-lah salahsatu yang berperan membantunya.
Sore itu, Anes sedang membereskan barang-barang di kamarnya, Ia akan segera pindah ke luar negeri untuk lanjut studi dan ikut suaminya setelah menikah. Serendipity.. seperti menemukan kebahagiaan dengan tidak disengaja. Anes menemukan kaleng bekas wafer yang pernah dijadikannya tempat menyimpan hal-hal yang menurutnya berharga dan penuh kenangan, seperti diary masa remaja yang Anes sendiri malu untuk membacanya ulang, bahasa nya juga masih banyak yang alay seperti huruf besar-kecil dalam satu kata, misalnya “meNgeNaLInya” atau huruf disatukan dengan angka, misalnya “k3m4r1n 4qu nun99u” dan kode-kode aneh lainnya. Di kaleng itu juga ada bungkus bekas coklat silverking hadiah dari si dia, juga ada pernak-pernik yang Anes punya buat kompakan sama teman genk-nya, dan surat cinta itu yang isinya refleksi dan motivasi untuk dirinya sendiri.
Bagi Anes, surat cinta dari Anes untuk Anes itu lah yang paling berkesan yang Ia simpan dan Ia temukan lagi.
#30daywritingchallenge
#30dwcjilid19
#Day27
#SQUAD5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar